Malaysia Klaim Kitab Bahrul Lahud

Headline

Kitab Bahrul Lahud – beritajatim.com

Oleh:
Nasional – Rabu, 9 Maret 2011 | 12:46 WIB

INILAH.COM, Pamekasan – Kitab Bahrul Lahud, yang diklaim sebagai milik Malaysia ternyata naskah aslinya ada di Kabupaten Pamekasan.

Kitab filsafat berusia 1600 M (abad 17) itu, kini diteliti oleh dua peneliti dari Balai Litbang Agama Semarang, yakni Zainul Adzfan dan Ummi Masfiah.

“Kitab ini merupakan karangan Syekh Abdullah Arif yang berasal dari Arab. Tapi menetap di Aceh. Entahlah kok Malaysia mengaku punya kitab aslinya,” kata Habibullah Bahwi, Pendiri Lembaga Sejarah dan Kebudayaan Ponpes Sumber Anyar, Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Rabu (9/3/2011).

Tidak hanya itu, di Ponpes Sumber Anyar juga ada sekitar 120 kitab yang rata-rata dibuat pada abad ke 17. Kitab tersebut, merupakan kitab salinan (ditulis tangan) dan ada kitab yang merupakan karangan sendiri.

Menurut Zainul Adzfan, kitab-kitab yang ada di Pamekasan sangat menakjubkan. Selain masih asli, juga sangat jarang ditemukan di berbagai daerah lainnya.

“Ada beberapa kitab yang terbuat dari kertas eropa. Biasanya, ilmu-ilmu yang berat ditulis di kertas eropa ini,” tandasnya.

Zainul mencontohkan, kitab yang ditulis di kertas eropa ini, antara lain kitab filsafat, tasawuf (ada berbahasa Madura), mantik dan astronomi.

Selain menggunakan kertas eropa, kitab-kitab yang ada juga menggunakan tinta langes dicampur dengan getah pohon soekarno. “Yang menarik, pada zaman dulu, sistem pengajaran disini (Pamekasan) berarti sudah maju. Buktinya sudah ada transfer ilmu dan budaya nulis,” terangnya.

“Saya lihat, kitab paling lama yakni filsafat logika (1600 M) dan paling terakhir kitab Isra’ Mikraj (1860). Kedua kitab ini ditulis dengan tangan,” paparnya.

Zainul juga mengaku, ada kitab Tufah al Mursalah asli (martabat 7) yang berusia 1600 M. Kitab ini, sambung dia, merupakan filsafat ketuhanan yang dikarang Jalaluddin Rumi.

“Kitab ini yang menyebabkan Hamzah Fansuri mati (ulama Aceh), karena paham ekstremnya,” jelasnya.

Kini, dua peneliti dari Semarang, masih melakukan pengabadian naskah terhadap kitab-kitab lain yang ada di Ponpes Sumber Anyar Pamekasan. [beritajatim.com]